Mengenal Redis – Teori Sederhana

Saat ini lagi main redis karena kerjaan yang nuntut pakai redis. Awalnya hanya tahu kalau redis seperti MongoDB saja yang database disimpan dalam bentuk json. Namun setelah dibaca-baca lagi dan ngobrol dengan yang lebih tahu, ternyata redis keren banget.

Perbedaannya diawal yang menarik adalah penyimpanan data yang seperti kita tahu kalau RDMS biasa menyimpan datanya di hardisk. NoSQL seperti MongoDB pun menyimpannya dalam hardisk. Uniknya, Redis menyimpan data dalam Memory. Ya Memory..aneh ya.

Inget dulu waktu kuliah, saat si processor butuh data yang diminta user, processor menanyakan dulu ke memory entah itu yang ada di cache memory atau di memory luar. Jika tidak ada di memory, processor lari ke hardisk. Namun jika di memory ada, si processor pun gak perlu akses hardisk untuk dapetin data.

Kelemahan menyimpan data di memory adalah ketika listrik mati. Data pada memory pun otomatis hilang. Permasalahan ini bisa disiasati dengan collect data setelah komputer/server kembali menyala.

Saya coba searching pemain pesaing dari redis sepertinya masih belum ada. Memcached yang banyak digunakan juga oleh developer pun masih belum bisa menandingi redis.

Kalau dibandingkan dengan memcached, redis.io lebih enak diakses, seperti yang saya sebut diatas. Like JSON. Jadi mudah aksesnya, tidak serumit memcached.

Redis.io pun mendukung master-slave lho. Saya belum pernah coba master/slave via redis. Salah satu yang oke lagi, bisa transaction juga. Beberapa tipe data pun ada di redis.

Studi kasus saya dapatkan di konten berita politik bijaks[dot][net]. Pertama kali buka, kok ini cepet banget. Setelah buka daleman detail berita. Saya lihat kondisi mengambil data dari redis. Terdapat case jika tidak ada di redis, code mengambil dari database biasa. Mungkin ini buat jaga kalau-kalau di memory redis tidak ada datanya ya.

Pikir saya, berarti yang tadinya server harus banyak mengeluarkan biaya untuk hardisk, sekarang juga harus banyak mengeluarkan biaya untuk memory juga ya. Ketika memory dibuat untuk menyimpan data, otomatis kita harus siapkan juga memory yang besar.

Dan benar, saya coba cari artikel twitter yang menggunakan redis. Ternyata menggunakan memory yang luar biasa besar. Bisa dibaca di artikel link ini.

http://highscalability.com/blog/2014/9/8/how-twitter-uses-redis-to-scale-105tb-ram-39mm-qps-10000-ins.html

Coba mulai ngulik redis.io? Ayo cobain teknologi ini 🙂
Cobain juga kenal teknologi varnish ya, mirip2 seperti redis 🙂

4 comments

  1. iyaaa gan .. ini DB yang ane cari cari .. soalnya kesulitan sama db sungguhan :v jagonya di prompt jadi lebih leluasa menggunakan prompt update … tutorial redis bahasa indonesia dan trik triknya donk 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: