Kenapa saya seneng bekerja remote

Tulisan ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya sendiri saat mulai bekerja di tahun 2011 sampai kini 2019. Harapan tentu mungkin bisa jadi bacaan buat orang seprofesi (IT Programmer) yang mungkin ada kesamaan dengan kondisi saya selama bekerja. Jika dirasa kurang cocok wajar saja karena setiap individu memiliki sejarah hidup masing-masing dengan pemikiran dan pendidikan yang mereka alami juga masing-masing.

2011 saya mulai bekerja di Jakarta Barat hampir ke Jakarta Utara, Angke. Saya tinggal di Bekasi waktu itu masih baru lulus kuliah di Unikom Bandung, saya dapet telp untuk mengikuti test sebagai PHP Programmer di daerah Kuningan namun diarahkan untuk bekerja di Angke.

Karna masih muda dulu ya, bekasi – angke itu saya kebut pake motor Suzuki keluaran tahun 2005, ingat betul motor tersebut pernah jatuh di Cilegon Bogor saat saya sedang skripsi. Badan selama naik motor itu biasa aja ya, karna mungkin masih umur 22an, namun hampir 3 bulan kebut naik motor akhirnya saya mengalah dan naik kereta dari Bekasi – Jakarta Kota lalu naik angkot sekali sampai di depan *katanya kantor (nyatanya rumah gedong).

Waktu itu ga peduli kerja dimana asalkan ada pengalaman + gaji. Perjalanan dari Bekasi ke Angke tersebut kira-kira 2-2.5 jam. Kalau di total PP itu habis 4 sampai 6 jam karena kadang gangguan kereta. Setahun di Angke, lalu saya bekerja di Mayora HO, tepatnya di Tomang namun resign gak sanggup jarak dan waktu. Saya dapat kerjaan lagi di Jakarta Timur tepatnya dekat pasar Gembrong (yang suka beli mainan dan boneka pasti tau ya..hehe)

Perjalanan dari bekasi ke dekat pasar gembrong kisaran 1 jam, naik motor kebut ya dan tidak macet. Overall saya seneng sekali di kantor itu dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Namun ego saya waktu itu masih tinggi, saya kurang menerima dan lingkungan pun begitu adanya. Kantor itu dimiliki oleh salah satu partai islam terbesar di Indonesia dan saya waktu itu sampai sekarang sangat tidak suka dengan Politik 😀

Disana saya mundur hanya 6 bulan kontrak dan saya tidak ingin memperpanjang walaupun diusahakan oleh managemen untuk lanjut. Setelah itu cari kerja lagi dan mulai kenal freelance cari project dari kawan atau biasa juga dapet project dari tulisan2 blog disini lho.

Saya menikah Oktober 2013 dan jujur sedang jadi pengangguran tapi ada project ya 😀 dan project di jakarta semua lho, walaupun paymentnya dulu moroot terus karena fitur yang terus bertambah.

Dan alhamdulillah keluarga istri saya menerima waktu itu walaupun kadang ada pertanyaan kerja dimana? di Jakarta 😀 (bener kan ada project di Jakarta haha)

Setelah nikah langsung dikasih amanah untuk punya anak, dari situ saya empot-empotan karna istri lagi hamil muda dan proyek hampir tidak jelas, payment masuk kadang 60-70% sisanya unfinished, fitur nambah terus tanpa akhir. Saya waktu itu belum pengalaman handle project freelance. Dari situ saya pikir saya harus kerja lagi, singkat cerita saya bekerja di Benhil, Jakarta dan ketemu orang-orang baik dan keren seperti si sofian dan bos terbaik saya sampai saat ini, mas amrit.

Allah kasih saya rejeki lewat bekerjanya saya di kantor mas amrit. Dari tim yang dulu politik islam dan kini tim mas amrit yang super creative, energic, dan komunikatif. Beruntungnya saya waktu itu kerja disana. Alhamdulillah juga anak saya lahir cesar dengan biaya bantuan dari kantor mas amrit. Namun saya resign ada hampir 10 bulan bekerja disana, entah saya rasa saya tidak bisa ikuti ritme activity teman-teman di kantor.

Dari kantor Benhil, saya coba cari freelance kembali. Coba cari lagi project-project karena entah kenapa saya lebih nyaman ketika ngerjain project-project luar kantor. Namun kerjaan freelance ini tidak tentu. Akhirnya saya pernah bekerja di beberapa kantor dalam waktu yang sangat-sangat singkat. Kadang ada baru 3 bulan, kadang 1 bulan, kadang baru 2 pekan, kadang malah jujur ada yang baru 1 hari esoknya saya izin tidak bisa lanjut kerja lagi.

Istri dan keluarga saya tahu betul, saya ini gampang sekali diterima di kantor dengan skill PHP saya (maaf bukan sombong) namun mudah juga keluarnya. Overall keluar dari kantor itu karna banyak hal, mulai dari lingkungan yang tidak kondusif, deadline kerjaan yang tidak masuk akal, kerja rodi sendiri dengan project yang tidak selesai-selesai dan lainnya.

Saya pernah bekerja di Software Agency, Konsultan IT, Pabrik yang aturan-nya super ketat, telat potong gaji, lembur tidak dibayar :D, startup kecil yang ingin tumbuh bahkan pernah jadi Tenaga Ahli di Kantor Pemerintahan.

Dan dari kesemua pekerjaan yang fulltime onsite kerja di kantor itu saya berpikir ada beberapa alasan kenapa saya tidak suka onsite kerja di kantor berikut ini:

  1. Jarak Dari Rumah Ke Kantor. Yap, makin berumur kepala 3, saya merasakan waktu itu penting sekali walaupun ngajak anak jalan bareng ke masjid. Dan badan ini mulai gampang letih pulang pergi selama 4-5 jam ke Jakarta.
  2. Lingkungan / Habit di Kantor. Ini jadi masalah saya hampir 80% kenapa saya gagal bekerja onsite di kantor. Saya perlu extra menerima habit lingkungan kantor karena kadang pribadi ini kurang menerima dari teman kerja, atasan, drama-drama dan politik, dan termasuk load kerjaan yang tidak masuk akal. Ada banyak sekali faktor disini, dan mengapa saya lebih nyaman kerja di rumah karna alasan kedua ini almost.

Overall alasan kedua yang kadang saya extra tanya-tanya dulu ke atasan atau pemilik perusahaan jika ingin bekerja secara onsite lagi. Namun pribadi ini merasa, nyaman kerja di rumah ataupun remote di tempat lain.

Hampir semua perusahaan punya identik dan gaya masing-masing dalam mengatur habit dan karyawan-karyawannya. Its fair. Dan hampir semua perusahaan punya drama dan politik masing-masing. Saya saja mungkin yaa yang tidak bisa menerima drama-drama itu serta politik-politik yang ada karna jujur hati selalu saya kedepankan saat bekerja.

Salah satu gambar tulisan dari Kirim.email yang nyentak banget dan meyakinkan saya untuk kerja remote karena alasan-alasan diatas.

Kalau dihitung mungkin ada 10+ perusahaan dari 2011 – 2019 yang saya datengi dan bekerja namun jujur saya tidak nyaman. Saya sekalian minta maaf mungkin ada orang-orang yang mengenal saya selama bekerja namun kecewa saya pergi tanpa alasan, atau dengan alasan yang tidak jujur.

Sampai tulisan ini dibuat, alhamdulillah saya sudah bekerja secara remote selama 1 tahun di perusahaan Malaysia. Saya diberikan kepercayaan untuk bekerja disana secara remote dengan gaji bulanan namun bisa bekerja di rumah. Saya coba tulis bagaimana saya bekerja secara remote dan pengalaman saya bekerja remote.

Jika tidak diberikan kepercayaan lagi, saya mungkin mau tidak mau onsite bekerja di kantor lagi dan tentu lebih perhatian dengan 2 faktor diatas.

Dari 2 faktor diatas, dengan bekerja secara remote tentu saya menghilangkan masalah nomor 1 dan meminimalisir nomor 2. Karena jujur drama dan politik di pekerjaan itu pasti selalu ada walaupun kita bekerja remote namun enaknya kita tidak bertatap langsung dengan mereka. Cukup kadang meeting dan Video Call saja.

Ada manfaat lain ketika kita bekerja secara remote:

Waktu lebih kosong, lebih banyak diisi untuk kegiatan lain

Setelah bekerja remote tentu waktu transfortasi dari rumah ke kantor jadi hilang ya. Nah waktu itu bisa dimanfaatin buat macem-macem seperti ngajak anak main, jualan online sampingan, belajar teknologi terbaru dan kadang bisa buat nungguin/pegang anak bayi pas si istri lagi tidak bisa pegang. (lagi mandi, lagi sakit, lagi macem2)

Ini yang sangat terasa saya rasakan. Saya bisa mengatur waktu untuk kegiatan lain ketika kerja secara remote.

Belajar komunikasi bahasa inggris dengan client atau tim remote

Jujur bahasa inggris saya sangat kurang, tapi dengan kenekatan dan pemikiran yang penting jalan dulu jadi sekarang bisa berani sedikit-sedikit bicara english.

Kenapa komunikasi bahasa inggris?

Karena kerja remote yang saya bahas disini kerja remote dengan orang luar indonesia. Tentu pakai bahasa inggris ya..Dari situ saya yakin dengan bekal komunikasi bahasa inggris, karir saya sesuai dengan bidang saya semakin dihargai.

Belajar tanggung jawab dan menjaga kepercayaan.

Saat saya bekerja remote, saya diberikan kepercayaan. Kenapa? karena jujur di Indonesia bekerja remote ini seperti tidak dipercaya oleh banyak perusahaan di Indonesia.

Dari situ saya selalu komit dan fokus bekerja walaupun saya yakin, saya bisa saja mengerjakan proyek lain saat remote dan perusahaan saya tidak melihat saya bekerja. Namun ini jadi kunci utama, perusahaan/tim melihat bagaimana saya bisa menjaga kepercayaan itu dan tanggung jawab terhadap task-task yang di-assign ke saya.

Mengelola dan Memanfaatkan waktu lebih efektif

Ada yang bilang enaknya freelance/remote lebih nyantai dan tidak ada deadline. Ini tidak sepenuhnya bener, yang bener adalah enaknya kerja remote itu bisa mengelola dan memanfaatkan waktu lebih efektif.

Saat ketemu task sulit saya harus fokus dan jika tidak fokus saya harus ganti waktu itu di waktu lain agar task sulit itu sesuai dengan target waktu. Yang tidak bisa memanfaatkan waktu pasti gagal nih pas kerja remote, klien luar negeri/tim kecewa dan bisa saja di cut karna kerja tidak sesuai dengan target.

Bisa bekerja lebih efektif dan fokus

Ini tidak semua orang merasakannya, tapi kalau saya ini jadi salah satu yang membuat saya seneng kerja remote karena lebih fokus. Saya tidak disibukan dengan drama-drama/politik kantor saat onsite. Tidak selalu mendengar orang lain ngobrol saat kita sedang fokus bekerja.

Namun kadang masalah lain timbul seperti ganguan dari anak, dari istri, dari tamu datang ke rumah ataupun social media. Semua itu bisa diatasi ketika saya yakin dan niat memang harus ganti waktu kalau itu terjadi ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.