Memulai hari keluarga tanpa Televisi dan mengurangi Handphone untuk anak

Saya sudah ada beberapa tahun lalu ingin menjual TV. Alasan klasik, TV tidak bagus buat anak-anak sepengetahuan saya. Kita sudah arahkan ke channel seperti Ipin Upin atau Kartun lainnya yang lebih baik namun tetep saja saya lihat dari segi iklan dan tayangan lain yang secara tidak langsung anak akan melihat seperti iklan film horor indonesia yang kadang nge-blast masuk saat anak menonton acara kartun si anak.

Alasan Kenapa Tanpa Televisi

Ada beberapa alasan kenapa saya akhirnya memulai hari untuk keluarga tanpa televisi:

Tontonan anak dan iklan yang kurang baik

Berawal dari 2 pekan lalu melihat anak saya yang pertama Irsyad berumur 5 tahun sudah hapal lagu-lagu soundtrack salah satu film anak. Saya berpikir, “kenapa dia bisa hapal lagu soundtrack itu sedangkan untuk belajar dan membaca huruf hijaiyah masih susah sekali.” Jawaban klasik istri saya ya karna tiap hari itu terus yang ditonton.

Jawaban-nya wajar, karena memang tiap hari di malam hari setelah nonton Ipin Upin, si anak otomatis akan melanjutkan dengan acara anak yang katanya “pesantren” itu. Lalu saya balik tanya ke diri saya sendiri. Apa sebagai bapak atau orang tua tidak bisa untuk bilang “TIDAK”?

Dan jika saya lihat, iklan seperti iklan film baru bergenre horor itu kadang masuk di acara kartun si anak. Saya tidak habis pikir, mau apa itu iklan film horor masuk ke iklan acara kartun anak-anak. Ga ngerti market atau sengaja mau market anak-anak? hadeuh..

Anak cenderung terus menerus menonton sehingga disiplin waktu kurang

Ini yang kadang membuat saya sebagai seorang bapak merasa kecewa. Kadang Irsyad di suruh makan, di suruh mandi, di suruh tidur itu sulit karena dia asik menonton TV. Kecenderungan anak setelah menonton itu terus dan terus melihat karna dunia anak itu dunia ingin tahu lebih banyak. Bapak-nya yang sibuk bekerja dan Ibu nya yang sibuk dengan si adek (anak kedua saya), membuat anak saya Irsyad lepas tanpa ada batasan.

Saya berapa kali marah-marah karna menyuruh anak untuk mandi sendiri, pakai baju sendiri dan makan sendiri ketika si Irsyad asik nonton televisi. Kondisi irsyad itu saat makan harus menyalakan televisi atau menyalakan handphone. Sekedar informasi, anak saya Irsyad tidak suka main game handphone, dia lebih cenderung menonton Youtube saja dibanding main game di handphone.

Kesehatan si anak terutama mata

Karena terus menerus menonton TV, kemungkinan utama bagi kesehatan fisik anak saya adalah mata. Semua orang dewasa tahu itu, menonton tv dengan jarak yang wajar itu seperti dalam text book saja. Kenyataan-nya, kita yang dewasa masih kurang ngeh itu juga berefek buruk ke kesehatan anak kita.

Selain mata, anak saya lebih cenderung malas untuk keluar dan bermain. Qodarullah saya tinggal saat ini dimana lingkungan anak sangat sepi, bahkan tidak ada teman seumuran irsyad yang ada. Jadi cenderung main sendiri. Atau jika ada waktu kadang saya coba mengajak keluar untuk sekedar beli galon, nyiram tanaman atau kegiatan outdoor lainnya.

Harapan tentu menghindari irsyad di televisi atau di handphone terus menerus. Dan ngajarin anak, di luar itu kadang lebih asik lho..

Efek setelah anak tanpa televisi

Efek setelah anak tanpa televisi sudah kita pikirkan sebagai orang tua. Yang paling pertama kita rasakan ketika irsyad tanpa televisi adalah bosan dan lebih cenderung lari ke handphone. Ini sudah kita alami. Kadang saat saya sedang bekerja di rumah (karena saya kerja remote), si irsyad mengajak saya keluar naik motor karena alasan dia bosan 😀

Si anak jadi beralih handphone

Dari situ saya pikirkan juga, ketika lari ke handphone maka itu sama aja lari ke lubang buaya yang sama. Tapi saya pikir lubang Handphone itu lebih bisa di manage dalam arti:

  1. Iklan di handphone (terutama Youtube) hampir sesuai dengan target tontonan si user. Tidak seperti TV yang bener-bener di blast. Dan di youtube itu kadang kita masih bisa Skip iklan, anak saya sudah pintar sekali Skip iklan btw.
  2. Saat menonton Youtube, kadang saya pilih youtube kids di handphone. Jadi tontonan lebih khusus untuk kids saja. Saya bisa arahkan juga ke channel youtube anak yang bagus seperti Nusa dan Rara, Rodja Ceria, dan lain-lain. Tidak seperti TV yang kita tidak bisa manage acara yang bagus untuk anak saat si anak ingin hiburan karena tiap channel/acara TV sudah ada waktunya masing-masing.
  3. Handphone itu punya batre dan kadang kita bisa jadi alasan handphone nya habis batre, handphone panas perlu istirahat, dan alasan lain. Tidak seperti TV yaa..

Atas alasan itu saya pikir masuk di akal, karena jujur ini pengalaman pribadi. Namun di beberapa alasan itu muncul masalah baru:

  1. Anak saya Irsyad kalau pegang handphone itu dekat sekali dengan matanya. Kadang malah sering-nya dia menonton youtube sambil tiduran. Ini tentu jadi pikiran kita sebagai orang tua
  2. Karena beralih ke Handphone, handphone yang biasa kita gunakan untuk komunikasi dengan orang lain seperti untuk jualan, untuk bekerja jadi tergangu karena dipakai sama Irsyad

Dari masalah itu, kita akhirnya mencari cara baru agar masalah itu hilang secara keseluruhan atau hilang secara bertahap. Salah satu yang saya lakukan itu membeli TV Box agar bisa menonton Youtube di TV. Istilahnya SmartTV.

Anak jadi cepet bosan

Masalah kedua saat anak lepas dari Televisi adalah mereka jadi cenderung bosan karena tidak menerima sesuatu yang baru, unik dan aneh dari TV wkwkw. Seperti yang saya sebutkan diatas, dunia anak itu dunia menjelajah, mereka seneng dapet ilmu baru, mereka seneng yang berwarna-warni dengan suara yang enak di telinga mereka. Dan di TV itu hampir semua bisa ya.

Kalau bosan itu, anak saya Irsyad biasanya ganggu saya, dia kadang mengajak jalan-jalan naik motor atau sekedar menyapa saat saya sibuk kerja di meja kerja saya. Kadang juga menggangu si Ibu yang lagi coba untuk momong si adek biar bisa tidur.

Solusi dari pelarian ini saya belum temukan caranya, tapi ya biasanya saya coba ajak keluar, beli galon, beli gas, nganter paket jualan, kadang saya ajak main ke rumah sodara. Intinya saat dia bosan ya ajak sesuatu yang baru.

Oiya, kadang mainan baru juga bisa membuat Irsyad nyaman tanpa televisi.

Membeli TV Box atau Smart TV

Dari masalah pelarian ke Handphone itu, saya lihat ada TV Box di Tokped. Melihat Feature-feature dari TV Box tersebut dan bilang ke Istri, ini kita ada jalan biar irsyad gak main handphone sambil tiduran. FYI, kita tidak membeli Smart TV yang baru dan memang setelah menikah saya hanya punya TV LCD biasa tanpa bisa konek ke Internet.

Saya pikir-pikir dibanding membeli Smart TV, saya lebih baik beli TV Box karena dari segi efesiensi biaya ya. Dan lagi pula TV lama saya ini bisa saya gunakan kembali tanpa harus menjualnya.( *entah laku berapa kalau di jual 😀 )

TV Box itu memungkinkan kita membuka Youtube di TV Jadul karena bantuan internet tentunya. Secara harga memang bervariasi, ada yang menjual 200rb-an sampai ada yang 2jt-an.

FYI, kita di rumah pakai internet Indihome, dulu sempat merasakan enaknya TV Channel dari Indihome, tapi biaya bulanan yang membuat kita memilih untuk mengirit dan menabung dibanding meng-aktifkan fitur-fitur TV Channel Indihome kembali. Saya lebih seneng membeli sekali, nikmati manfaat dari barang itu dibanding membayar secara bulanan 😀

Tips Membeli TV Box Android

Mungkin sekalian saya tulis disini tips membeli TV Box Android agar TV Jadul kita bisa menonton Youtube. Seperti tujuan saya diatas, saya fokus memang membeli TV Box ini untuk mengurangi masalah anak yang pegang handphone terus bahkan sambil tiduran. Jadi buat saya, asal ada fitur nonton Youtube bisa, ya take that.

Cuma ada beberapa masalah yang saya cari di Internet dengan TV Box ini, salah satunya adalah kecepatan saat kita menjalankan Youtube. Kadang ada keluhan dari pengguna TV Box itu lemoot sekali, tidak responsive dan bikin gak nyaman katanya.

Karena saya mengerti IT sedikit-sedikit ya, masalah itu biasanya muncul tentu di perangkat terutama processor si tv box dan memory-nya tentu! Selain itu, kecepatan internet juga berpengaruh. Jadi saran saya yang ingin membeli TV Box, pilih yang Processor nya cepat dan Memory minimal 2 GB di tahun 2019 ini. Jangan pilih yang 1 GB memory nya karna lemoot biasanya.

Selain itu, saya memikirkan juga garansi. Beberapa garansi hanya 3 bulan, kadang 6 bulan. Saya lebih nyaman ketika ada barang yang membeli garansi 1 tahun. Entah kenapa gak terlalu yakin produk Cina 😀

Kesimpulan

Akhirnya dengan cara diatas saya bisa memulai hari tanpa TV untuk keluarga saya. Temen pembaca ada saran atau masalah lain menghadapi kasus seperti anak saya? Boleh diskusi di kolom komentar ya 🙂

Pertanyaan Lain:

# Sekarang pakai TV BOX Android, berarti TV biasa masih bisa di buka?

Yes, TV biasa masih bisa sebenernya. Namun saya make deal sama istri, “udah beli TV Box, kabel antena kita cabut ya..” Dan istri setuju 😛

Anak saya Irsyad juga sempet ingin menonton TV biasa, tapi saya bilang rusak, antena rusak :D. Dan ketika si Irsyad mengganti dengan remote biasa, gambar semut semua haha. *berhasil

# Apa ga takut kehilangan update infomasi dari berita tanpa TV biasa?

Kayanya sekarang kita bener jarang menonton TV biasa, kita bisa buka detik.com atau kumparan atau sosial media pun lebih cepet memberikan informasi update. Jadi kita ga merasa kehilangan update berita.

# Channel apa yang biasa ditonton anak?

Anak saya suka Rodja Ceria khususnya dibagian create sesuatu, scient dan cerita-cerita. Bisa search Rodja Ceria. Selain itu anak seneng Nusa dan Rara, kartun Ipin Upin, dan beberapa kartun yang biasa dia tonton di TV biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.